Kalau ikut workshop/seminar, paling males banget banget kalau pembicaranya ngantukin, betein, nggak peduli sama audiens, pointer pembicaraannya nggak jelas, suaranya datar bla bla bla.
![]() |
Tapi tiba-tiba terpikir, guru juga kan pembicara dan hei! saya seorang guru, berarti saya juga seorang pembicara! Nah lho...! Yah... walaupun zaman sekarang, guru hanya sebagai fasilitator dan anak yang lebih aktif dalam pembelajaran, tapi tetap aja kan yang namanya ceramah itu tidak bisa dihindari.
Jadi mengerti perasaan murid-murid yang tidur di kelas, atau sibuk sendiri pas kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Itu bukan sepenuhnya salah sang murid, melainkan alarm bagi guru bahwa "anda pembicara yang buruk!"
Ada saatnya kita ikut seminar, walaupun materinya bagus, tapi karena cara penyampaiannya yang tidak menarik, akhirnya yang dipikirin malah >>get me out from here!!! Tapi ada juga pembicara yang walaupun materinya berat dan padat, tapi karena penyampaiannya menarik, jadi kitanya sebagai audiens juga semangat.
Saya merasakan jadi guru juga begitu. Apalagi saya guru eksak, yang notabene mata pelajaran yang saya ampu sudah kadung suram di mata para siswa. Tugas saya adalah membangun komunikasi dengan siswa sehingga mereka bisa melihat fisika seindah saya melihatnya.
Setelah merasakan sendiri dengerin pembicara yang ngebete-in, lalu mendudukkan diri saya di posisi siswa juga mempertimbangkan tugas saya sebagai guru, jadilah corat coret cara bagaimana caranya membangun komunikasi supaya murid nggak bete di kelas tapi kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sesuai rencana. Cekidot>>>
- Masuk ke dunia siswa, pahami karakter dan situasi mereka ::: Indahnya menjadi guru adalah kita berhadapan dengan manusia bukan mesin!
- Persiapan yang Matang ::: Hallloowww... ini mah gak usah dibilang kaliii, harga mutlak! Kuasai Materi, Kreasikan RPP. Mau bikin rumah aja harus ada blueprintnya, maka untuk mengajar juga harus ada skenarionya.
- Punya style sendiri ::: Ternyata guru itu punya style mengajar masing-masing. Murid-murid lebih tahu. Ada gaya guru killer ala hitler, ada gaya jadul, ada gaya 'terserah murid', ada juga gaya alay lho kok???. Nah... coba lihat lagi style mengajar kita kayak gimana.
- Intonasi suara dan pilihan kata-kata ::: Bayangin pembicara yang suaranya datar -_-" gimana rasanya???
- Interaktif ::: Libatkan siswa, cari contoh yang sesuai dengan keseharian siswa, tanya pendapat mereka, something like that lah... Siswa zaman sekarang tuh pinter-pinter karena sumber belajar bertebaran dimana-mana, so let them show off.
- Inspiratif ::: Saya sering sekali berbuat kesalahan. Salah satu kesalahan saya adalah sering berkata, "terus kalau kamu tiduran, kamu jadi pintar?", "memangnya kalau kamu ngobrol saat saya menerangkan, kamu jadi bisa?" biasanya mereka akan diam setelah itu. Tapi malapetaka terjadi. Mereka menggunakan kata-kata saya untuk saling mengejek sesama temannya. Bahkan bertengkar hebat pun menggunakan kata-kata itu. Tinggal saya merenung. Seandainya saja saya mengatakan hal-hal yang inspiratif. Sadarlah saya makna "Guru, digugu, ditiru". Menjadi Guru itu nggak boleh sembarangan!
- Jadilah pendengar yang baik ::: Dengan menjadi pendengar yang baik, kita jadi tahu bagaimana caranya menjadi seorang pembicara yang baik.
- Dan inilah kata-kata kakak tingkat yang sangat menginspirasi saya::: Satu-satunya cara untuk mempengaruhi orang lain adalah dengan menjadi teladan!
Yah... walaupun sudah banyak buku yang membahas tentang cara menjalin komunikasi, tetap aja pengen sharing sesuatu. Kalo ada mirip-mirip sama kata-kata dari buku tertentu, mohon dikomen supaya saya tulis sumbernya *soalnya saya juga banyak baca buku tentang komunikasi tapi lupa buku apanya hehe,,,
